(Reuters) – Indonesia memiliki investasi berniai lebih dari $ 2,5 miliar (sekitar Rp 24 triliun) untuk penyulingan minyak kelapa sawit dengan kapasitas yang hampir dua kali lipat, seiring banyaknya ekspansi yang dipimpin oleh perusahaan yang dimiliki oleh beberapa konglomerat yang paling kuat di negara Asia Tenggara. Berikut adalah beberapa fakta tentang taipan minyak sawit Indonesia:

1. Martua Sitorus

Pada 2007, perusahan milik Martua Sitorus bergabung dengan bisnis kelapa sawit milik Kuok Khoon Hong, seorang keponakan dari orang terkaya Malaysia. Hasilnya adalah Wilmar Internasional, perusahaan minyak kelapa sawit terbesar di dunia yang memiliki perkebunan luas, kilang, penghancur biji minyak dan kapal di lima benua. Wilmar sekarang adalah kilang minyak terbesar di Indonesia dan menguasai sebagian dari perdagangan biji minyak dengan China, memimpin perusahaan yang juga terkait dengan Singapura, Asia Cargil.

2. Bachtiar Karim

Bersama saudara-saudaranya, Bachtiar Karim menjalankan perusahaan Musim Mas, perusahaan minyak kelapa sawit milik pribadi dengan kapasitas penyulingan terbesar kedua di Indonesia. Perusahaan yang dikelola keluarga merambah hingga ke Pabrik Sabun, Cheong Nam, yang didirikan sang ayah, Anwar Karim pada 1972. Perusahaan tersebut sekarang kebanyakan mengekspor minyak kelapa sawit ke India — importir minyak terbesar di dunia.

3. Eka Tjipta Widjaja

Seorang imigran dari Cina, taipan minyak sawit tertua di Indonesia ini memulai bisnisnya ketika masih remaja dengan menjual biskuit dengan gerobak di akhir 1930-an. Widjaja, sekarang hampir berusia 90 tahun, telah membuat salah satu imperium terbesar minyak sawit di Asia Tenggara. Perusahaan besar keluarganya termasuk Golden Agri, yang terkait dengan Singapura, induk dari perusahaan perkebunan terbesar Indonesia, SMART. Pada 2010, SMART dituduh oleh kelompok pemerhati lingkungan telah secara ilegal membuka hutan untuk memperluas perkebunan. Audit independen menunjukkan SMART melakukan beberapa pelanggaran hukum lingkungan. Mereka berjanji akan memperbaikinya.

3. Anthony Salim

Anak bungsu Liem Sioe Liong, seorang taipan yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden Soeharto. Liem, yang meninggal bulan lalu, rumahnya di Jakarta dihancurkan oleh massa selama kerusuhan yang terjadi pada 1998 (menjelang Orde Baru runtuh). Salim bernegosiasi dengan pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan utang yang bernilai lebih dari $ 5 miliar (sekitar Rp 47 triliun) dan tetap memegang kendali PT Indofood Sukses Makmur, mahkota kerajaan ayahnya dan raksasa pembuat mi instan. Dia memperluas kepentingan di perkebunan kelapa sawit, yang sekarang termasuk perusahaan yang terkait dengan Singapura, Indofood Agri dan anak perusahaan Salim Ivomas Pratama.

4. Ciliandra Fangiono

Taipan minyak termuda, Ciliandra Fangiono (36) kepala perusahaan perkebunan yang terkait dengan Singapura, First Resources. Lulusan Cambridge Fangionio ini sebelumnya bekerja sebagai bankir Merrill Lynch dan di bawah pengelolaan First Resources. Perusahaan ini jadi favorit para pemegang saham karena memiliki stok luas yang belum ditanami dan pertumbuhan produksi yang agresif.

5. Aburizal Bakrie

Salah satu orang terkaya Indonesia, menduduki peringkat nomor 30 oleh majalah Forbes dengan kekayaan bersih sekitar $ 900 juta (sekitar Rp 9 triliun). Pada 2004, ia terjun ke dunia politik dan merupakan calon presiden dalam pemilihan presiden. Dia telah meninggalkan kepemimpinannya di Grup Bakrie — sebuah kerajaan perkebunan, tambang batubara, media dan perusahaan konstruksi — dan menyerahkan kendali ke saudaranya, Nirwan. Bisnis keluarga telah diputar, dan lembaga pemeringkat Standard & Poor baru-baru ini menempatkan anak perusahaan perkebunan Bakrie Sumatera pada peringkat yang buruk karena mencatatkan waktu lebih lama dari yang diharapkan untuk menyelesaikan pinjaman untuk membayar hutang. Bakrie Sumatera juga ingin memperluas perkebunan karet untuk memanfaatkan kenaikan harga lateks.

6. Sukanto Tanoto

Putra migran asal China, Tanoto putus sekolah di Medan, Sumatera, ketika ia masih remaja demi membantu keluarganya dan kemudian menjadi seorang konglomerat berkat Raja Garuda Emas. Melalui grup itu, Tanoto (62) memiliki kekayaan tidak terdaftar termasuk perusahaan minyak sawit Asian Agri yang meliputi 160 ribu hektar perkebunan dan produsen kertas Asia Pacific Resources International Limited.

7. Putera Sampoerna

Setelah menjual bisnis rokok keluarga ke Philip Morris pada 2005 dengan harga lebih dari $ 5 miliar (sekitar Rp 47 triliun), Putera Sampoerna menggunakan dana itu untuk berinvestasi dalam usaha mulai dari perbankan sampai telekomunikasi. Selama bertahun-tahun, Sampoerna mengembangkan perkebunan keluarganya yang ada untuk membuat Sampoerna Agro. Anaknya, Michael, kini menjadi presiden komisaris perusahaan kelapa sawit.

(Dilaporkan oleh Niluksi Koswanage; diedit oleh Ed Davies) (From: Yahoo.com)